Membawa amanah ribuan hati dari Cianjur bukanlah perjalanan yang ringan bagi saya. Bersama empat orang relawan, kami berangkat menuju Sumatera Barat dengan satu niat yang sama, menyalurkan kepedulian, membawa harapan, dan menjaga kepercayaan warga Cianjur yang telah menitipkan donasi melalui Cianjur Bergerak.
Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan jarak, tetapi perjalanan batin. Setiap langkah terasa berat karena kami sadar, bantuan yang kami bawa adalah titipan rasa kemanusiaan bukan sekadar barang, melainkan doa dan harapan agar saudara-saudara kami di Sumbar bisa kembali bangkit.
Lokasi pertama yang kami datangi adalah Kampung Batu Busuk, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Rabu, 24 Desember 2025, kawasan ini masih berada dalam fase penanganan darurat pascabanjir bandang. Apa yang kami lihat di lapangan sungguh menggetarkan hati.
Pemukiman yang dulu ramai kini berubah menjadi hamparan lumpur, batu, dan kayu. Area persawahan yang menjadi sumber kehidupan warga tak lagi tampak, tertimbun material sisa banjir yang datang tanpa ampun. Jejak kehancuran itu begitu masif, seakan alam meninggalkan luka yang dalam.
Di tengah keterbatasan, harapan masih menyala. Sejumlah alat berat jenis ekskavator terus bekerja tanpa henti, membersihkan material longsor dan menormalisasi aliran sungai. Para petugas dan relawan bahu-membahu, berpacu dengan waktu demi keselamatan dan masa depan warga.
Di sanalah saya semakin memahami makna amanah. Bahwa hadir di tengah mereka, mendengar keluh kesah, dan menyaksikan langsung penderitaan, adalah tanggung jawab moral yang tak bisa diwakilkan oleh kata-kata. Bantuan yang kami salurkan mungkin tak seberapa dibandingkan kerugian yang mereka alami, namun setidaknya menjadi bukti bahwa mereka tidak sendiri.
Atas nama kemanusiaan, kami melangkah dengan kepala tegak bukan untuk dipuji, tetapi untuk menjaga kepercayaan. Karena sesungguhnya, misi ini adalah tentang menghormati penderitaan orang lain dan menunaikan amanah dengan sepenuh hati.


Komentar
Posting Komentar